LET'S PLAY!
so we never get old :)

“Hati-hati ya dek, banyak ‘abu-abu’ nya disana..”

Nasihat tersebut saya terima beberapa waktu lalu dari salah seorang kakak kelas ketika saya menjawab pertanyaannya tentang dimana saya bekerja saat ini. Harus saya akui, bidang pekerjaan saya saat ini memang terkenal sekali dengan area ‘abu-abu’ nya. Bahkan menurut saya untuk ukuran tempat bekerja saya saat ini, yang boleh dibilang lebih ‘kering’ dibanding yang lain, si warna abu-abu ini cukup bisa terlihat jelas.

Hefff, dilematis.

Disatu sisi saya, saya menikmati pekerjaan saya saat ini. Disisi lain, si warna abu-abu ini memang cukup membuat galau dan tidak nyaman. Walaupun ga munafik, tanpa area abu-abu ini ya mungkin kami memang tidak akan bisa bertahan hidup dengan layak. Aheuuu.

Berharap semoga saja reformasi birokrasi dan remunerasi akan segera berjalan dengan baik dan benar, sehingga bisa melunturkan sedikit demi sedikit warna abu-abu ini sehingga menjadi putih bersih kinclong cemerlang. Untuk Indonesia yang lebih baik.

..Jadi, memang tidak perlu saya membawa orang luar ke PLN. Saya hanya perlu membawa seorang teman saja ke dalam PLN ini. Teman itu bernama “antusias”. Hanya orang-orang yang hidupnya penuh antusias yang bisa membawa kemajuan.


Dahlan Iskan, Dua Tangisa dan Ribuan Tawa.

Saya kadang merasa suka aneh sendiri sama pikiran saya. Terkadang saya terlalu membesarkan hal-hal remeh temeh yang dipandang orang lain ga penting. Di lain waktu saya malah menggampangkan hal-hal yang menurut orang lain mungkin masalah besar.

Terbalik.


Hahah. Nyoooooong. Ini salah dimana ya? Emang sayanya yang aneh atau piye ya?

Hoho. Masalah cara pandang sih emang. Dan sayangnya itu dia masalah terbesar dan yang paling merusak di dunia ini sejak dahulu kala (apakah kali ini kalian sepakat sama saya atau sekali lagi saya membesarkan hal yang kecil? hoho). Perang, permusuhan, pertikaian, dan kehancuran yang terjadi selama ini ya terjadi karena manusia tidak bisa meredam egonya. Masing-masing merasa paling benar. Masing-masing merasa pandangan dan pikirannya lah yang seharusnya diikuti orang lain. Egoisme manusia tingkat tinggi.

Hal yang membingungkan ketika kebanyakan orang menganggap itu salah sedangkan engkau sendiri yakin itu benar. Harus bagaimanakah?

Hemm hemm hemm, tapi yang paling penting dari semuanya sih menurut saya ya punya sikap. Daripada blentang-blentong ga tau arah dan akhirnya cuman menclak-menclok kesana kemari. Plin-plan.

Yah, emang musti sering-sering mencoba memakai kacamata orang lain dan meredam ego pribadi kalo udah kayak begini mah. Biar dunia aman terkendali, bahagia, sejahtera, sentausa, dan mengantarkan kita pada pintu gerbang kemerdekaan.

:)

Saya ga akan ngebahas tentang film nya Rio Dewanto disini, secara belum nonton juga (ketauan cupunyah, hahah). Saya cuma ingin berpendapat sedikit tentang budaya yang identik dengan ibu-ibu ini.

Sering liat kan di tipi-tipi atau pilem-pilem arisan jadi ajang gosippers bagi ibu-ibu. Hehe. Nah, kita ambil segi positifnya. Ajang silaturahmi. Saya lebih senang melihat arisan sebagai suatu ajang silaturahmi. Paling engga kita jadi nyempetin waktu sebulan sekali untuk bersilaturahmi dengan para peserta arisan lainnya. Hal ini bakal jadi momen yang langka banget apalagi buat ibu-ibu sibuk yang mungkin sulit banget untuk meluangkan waktu buat dirinya sendiri. Bagus kalo akhirnya ajang arisan ini malah jadi ajang pengajian juga =9 

Jadi ya menurut saya, arisan ga cuman sekedar ngumpulin duit tiap bulan dan menyerahkan nasib pada kocokan segelas aqua bekas. Kalo cuman mau sekedar ngumpulin duit di bank ajalah. Hoho.


aris·an (n)
kegiatan mengumpulkan uang atau barang yg bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yg memperolehnya, undian dilaksanakan dl sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya;

ber·a·ri·san (v)
bertemu (berkumpul) secara berkala untuk arisan

[KBBI Daring]

(Source: wimpydrawings, via kuntawiaji)